Rabu, 24 Juni 2009

(Kesenjangan Hidup di Perkotaan)



Kerasnya arus modernisasi di kota-kota besar menyulap kehidupan beragam warna. Utamanya pemandangan yang kontras antara si kaya dan si miskin. Ketimpangan social yang sangat mencolok serupa kekhasan yang lazim muncul di sudut-sudut pemandangan ibukota.
Di dalam kemewahan gedung-gedung dan seisinya, manusia urban berduit terbuai dimanjakan kesenangan duniawi, menikmati hidup bak surga seakan hadir setiap saat. Sensasi perkotaan yang serba ada, lux, lengkap, mewah, membuat manusia kota menarik diri dari kehidupan sekitar.
Nyatanya kehidupan perkotaan tak pernah sepi dari pemandangan sebaliknya. Kemiskinan, kenelangsaan, ketidakberdayaan, ketidakmampuan menghadapi gempuran hidup yang begitu keras, sehingga orang terus berlomba mengais rizki dengan beragam cara. Tak peduli harus mengiba, meminta-minta, meninabobokan diri dalam gerobak, tumpukan sampah, emperan toko dan mall-mall. Malangnya aktivitas menyedihkan tersebut serupa kelaziman yang pantas ada. Tak ubahnya tontonan wajib bagi manusia-manusia urban. Rasa empati, peduli apalagi berbagi, menjadi hal yang sulit dimunculkan.
Si papa bagi si kaya tak ubahnya langit yang sangat jelas terlihat namun begitu berjarak dari bumi.sementara kehidupan glamour kaum punya pun menjadi mimpi-mimpi manis yang sesekali melecut hati kaum urban yang miskin. Senantiasa berharap ada setitik kearifan untuk meneteskan rizki bagi mereka.
Maka benarlah apa yang disabdakan Rasul saw, bahwa kekayaan dan kefakiran itu bersumber hanya dari hati. Barang siapa yang kaya di dalam hatinya maka ia tidak akan dapat dicelakakan oleh apapun yang ia alami dalam hidupnya di dunia. Dan barang siapa yang fakir hatinya, maka ia tidak dapat dijadikan kaya oleh harta apapun sepenuh dunia (teks: Sari, foto: Wulan).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar